Kamis, 01 Desember 2011

Mana Lebih Penting, IQ atau EQ?


Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran kecerdasan intelektual seseorang. Diperoleh dari beberapa macam test dalam skala tertentu. Antara lain menggunakan skala Stanford-Binet dan skala Cattell, dan ada beberapa test dengan menggunkan skala acuan yang berbeda. Hasil test IQ digunakan dalam banyak konteks, antara lain sebagai prediktor tingkat pendidikan atau kebutuhan khusus. 
Emotional Quetiont (EQ) merupakan ukuran kemampuan seseorang untuk mengatasi atau memanage emosi pada diri sendiri juga pada hubungannya dengan orang lain. Yaitu memotivasi diri sendiri , empati pada orang lain secara mendalam, kemampuan untuk mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemampuan adaptasi dan kemandirian, kemampuan dalam memecahkan suatu masalah dan ketekunan, rasa setiakawan (toleransi) dan hormat. Atau bisa juga disebut ketrampilan sosial atau kecerdasan sosial. Yaitu lebih kepada kemampuan sosialisasi dan membentuk jaringan kepada orang lain.
Banyak orang berpendapat bahwa jika seseorang mempunyai kecerdasan intelektual atau (IQ) tinggi adalah jaminan kesuksesan di masa depan dibanding yang lebih rendah. Itu yang membuat kebanyakan kurikulum sekolah di tanah air lebih mementingkan IQ daripada EQ. Bahkan pengalaman si Sulung kami ketika Taman Kanak-Kanak Besar (TK-B) diwajibkan mengikuti test IQ pada salah satu Psikolog yang telah ditunjuk untuk salah satu syarat masuk Sekolah Dasar (SD) tertentu. Hasilnya sungguh menggembirakan karena masuk ke tingkat intelektual tinggi yaitu dengan skor 125 masuk tingkat cerdas (dari skor tertinggi 127 ke atas masuk jenius)
Akan tetapi pada kenyataannya, banyak kasus terjadi dimana seseorang yang mempunyai tingkat intelektual tinggi justru tersisih dari orang yang mempunyai tingkat intelektual lebih rendah. Ternyata IQ tinggi bukan sebuah jaminan meraih kesuksesan. Bahkan pada beberapa referensi membuktikan bahwa tingkat emosional seseorang lebih mampu memperlihatkan kemampuan seseorang meraih kesuksesan. 
Psikolog si Sulung mengungkapkan bahwa IQ seseorang tidak akan banyak berkembang. Apabila seseorang dilahirkan dengan IQ rata-rata maka tidak akan bisa bertambah atau berkurang, hasilnya tetap pada interval skala nilai tersebut. Berbeda dengan kemampuan emosional seseorang yang dapat dikembangkan seumur hidupnya yang dipengaruhi oleh pertumbuhan dari lingkungan keluarga. Dalam tampilan gambar yang saya pinjam dari google juga membuktikan bahwa 80% orang sukses karena EQ bukan IQ-nya. Hasil ini berdasarkan data survey orang sukses di dunia.
Pengalaman si kakak di Indonesia: IQ lebih penting daripada EQ?
Si sulung berumur 6 tahun 9 bulan sebelum kami ‘boyongan’ ke Swedia sekitar 6 bulan lalu. Sekolah di SD kelas 1 semester ke-2, dengan prestasi yang lumayan terlihat dari nilai raportnya. Dia juga sang ketua kelas loh, dipilih wali kelasnya karena suaranya lantang dan berani maju ke depan untuk menyiapkan teman-teman ketika datang ataupun menjelang sekolah usai. Walau tubuhnya kecil namun berani dan ‘dewasa’ , kata wali kelasnya ‘kecil-kecil cabe rawit’ 
Seperti kebanyakan teman-temannya, si kakak juga ikut les sepulang sekolah. Ada 3 les yang diikutinya, atas kemauan dan pilihannya sendiri.. walaupun pada akhirnya lebih banyak ngadat karena terlalu asyik main bersama anak tetangga sepulang sekolah. Tapi kami tidak memaksa untuk tetap berangkat, jadinya ya tiap bulan memberi ‘uang sukarela’ ke tempat lesnya. Sebenarnya dia minta diikuti les yang  lainnya, tapi kami tidak ijinkan, selain waktu bermain kurang juga karena dia suka ‘angot-angotan’. Dia awal saja semangat, selebihnya mulai malas deh..capek kan sudah bayar uang muka les lumayan besar ternyata tidak diterusin. Seperti waktu si kakak ingin belajar karate.. baru masuk di hari sabtu miggu pertama, sabtu depan sudah ngadat.
Otomatis si kakak hanya ikut 3 les yaitu les bahasa inggris di lembaga Inggris-Indonesia seminggu 2 kali, di komplek tempat tinggal kami. Les ngaji Iqra dengan memanggil guru mengaji setiap 2 kali seminggu dan les baca tulis hitung juga dengan guru privat. Sebelumnya kami sudah berusaha untuk mengajarkan semua sendiri, namun si kakak ingin seperti teman-temannya yang belajar dengan guru les. Tapi kami setiap hari juga tetap menemani dan membantu memecahkan soal dalam mengerjakan PR dan membimbing ketika mau ujian. Apalagi sekarang pelajaran SD sudah mulai susah. Pelajaran SD kelas 1 seperti kelas 3 atau 4 waktu saya sekolah dulu. Belum lagi mata pelajaran yang seabreg banyaknya dan banyak hafalan. Otak harus kerja ekstra keras. Alhamdulillah si kakak cukup pintar untuk bisa mengimbangi pelajaran di sekolah, walau nilai bahasa Sundanya selalu minim. Tapi bukan masalah besar bagi saya karena sayapun tidak bisa mengajarkan bahasa Sunda padanya, maklum orang Jawa tulen..
Pernah dia ingin ikut les kumon seperti beberapa teman main yang tinggal dekat rumah, namun saya berpikir ulang karena sudah cukup banyak waktu untuk belajar. Padahal dia juga perlu waktu bermain yang cukup mengingat umurnya dan sudah belajar di sekolah setiap pagi. Pernah suatu kali minta juga les renang, tapi karena waktunya bersamaan dengan les yang lain akhirnya sepakat setiap akhir pekan kami menemani berenang setiap dia minta, dan si adikpun bisa ikut bermain disana. Jadi tidak ada jadwal pasti untuk berenang 2 kali seminggu.   
Pada umumnya, seorang guru lebih banyak memberikan materi dan murid sebagai penerima materi. Soal di sekolah, PR atau ujian yang selalu diberikan. Atau sistem pengajaran satu arah. Hanya murid yang berani yang bisa berprestasi atau berdiskusi untuk mengungkapkan pendapat.
Pengalaman si kakak di luar negeri (Swedia): EQ lebih penting dari IQ?
Bulan maret kami pindah ke Swedia, dan si kakak belum berumur 7 tahun waktu itu. Mengikuti syarat dan ketentuan pendidikan disini sebelum umur 7 tahun tidak bisa masuk ke SD kelas 1, tapi masuk ke persiapan SD yaitu kelas 0 lagi. Setiap hari full bermain di sekolah, belajarpun cuma pengenalan angka dan huruf selebihnya cenderung ketrampilan meningkatkan kreatifitas dan kemandirian. Senang banget sekolah disini serasa lepas dari semua beban.
Disini kemampuan emosional lebih diutamakan. Terlihat dari mata pelajaran yang sedikit, tidak ada soal, PR atau ulangan umum. Guru justru sebagai pendengar atau pembimbing dengan penyampaian materi secara tersirat. Biasanya anak-anak mengungkapkan pengalaman, kejadian yang dialami atau apa saja mengenai lingkungan sekitar. Lalu mereka berdiskusi membahas topik yang dilontarkan seorang murid dan semua mengemukakan pendapat, guru hanya sebagai perangkum kesimpulan dari semua pendapat. Kemandirian dan kreativitas lebih ditekankan dengan ketrampilan dan kesenian. Rasa solidaritas kepada teman, saling berbagi dan peduli juga ditanamkan dengan diadakan acara outdoor atau belajar di luar sekolah baik di kebun binatang, taman kotam melihat pertujukan teatre, pantai, pelabuhan dan tempat yang lain yang berbeda setiap seminggu sekali.  
Dilema antara IQ atau EQ?
Dengan mengalami 2 sistem pendidikan yang jauh berbeda kurikulum dan acuannya membuat kami sebagai orangtua sedikit bingung untuk menentukan pentingnya IQ atau EQ? Tapi ada beberapa hal yang kami pertimbangkan mengingat hanya 4 tahun tinggal disini dan selebihnya harus kembali ke tanah air. Kecuali, syukur-syukur neh cita-cita suami untuk bekerja di luar negeri dan menetap tercapai..amien. Tapi tetap saja harus dipersiapkan kemungkinan ketika si kakak kembali di bangsu SD di tanah air. Mengikuti kurikulum dan semua ketentuan pendidikan yang berlaku disana.
Libur panas 2 bulan hampir berlalu yaitu dari tanggal 18 Juni - 18 Agustus. Selama liburan musim panas kami mengunjungi beberapa kota di wilayah Skane untuk melihat festival, karnaval, acara summer lainnya atau hanya sekedar ingin melihat kota itu. Juga sempat ke negeri tetangga Denmark beberapa kali dengan naik kereta listrik. Sesekali kalau sedang dirumah atau malas keluar karena hujan, kami bergantian mengajari dan membimbing si kakak belajar mengikuti kurikulum di tanah air. Si papa mengajari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), bahasa Inggris dan mengaji, sedangkan saya membimbing belajar matematika dan bahasa Indonesia. 
Di tanah air, sekarang teman-teman si kakak kelas 2 SD sedangkan si kakak baru mau naik kelas 1 itupun dengan kurikulum lebih banyak bermain.  Seperti halnya orang perantauan, kami menitipkan sesuatu kepada teman yang pulang ke tanah air untuk bisa sampai kesini. Kamipun menitipkan beberapa buku pelajaran SD untuk 2 semester sekaligus, namun tidak semuanya. Hanya IPA, matematika, bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selebihnya yang sebagian besar hafalan dan lingkungan bisa kami cari di beberapa silabus pelajaran SD online dan belajar dari materi tersebut.
Nah, sekarang ada kurikulum baru yang kami tetapkan. Setiap saat selama liburan, kami terpaksa menjejali si kakak dengan kurikulum SD yang berlaku di tanah air, supaya tidak banyak ketinggalan kelak sekembali kesana. Jadi kami menyebutnya belajar dirumah dan bermain di sekolah. Setelah masuk sekolah si kakak akan bermain” di sekolah dan  tentu harus belajar di rumah 5 hari seminggu, dari Senin - Jumat. Sedangkan hari libur (sabtu - minggu) adalah hari ‘kebebasan’. Karena kalau tidak diberlakukan kurikulum baru itu kasihan si kakak nanti ‘termehek-mehek’ seperti pengalaman beberapa anak teman yang mengalami sekolah di luar negeri dan pada akhirnya memilih home schooling sebagai solusi.
Pada akhirnya perdebatan dan kebimbangan diakhiri dengan satu kesimpulan, bahwa kecerdasan intelektual (IQ) sama pentingnya dengan kemampuan/kecerdasan emosional (EQ).
Pesan Papa dan Mana untuk si kakak: Ayoo kita belajar dan bermain…jangan banyak bermain dan jangan pula banyak belajar..



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Leeyhae.blogspot.com and Powered by Blogger.