Sabtu, 24 Desember 2011

8 Teknologi Tercanggih di Dunia Saat Ini

1. Quantum Teleporter


Q-Teleportation telah berhasil pada objek yang lebih kecil berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. "Kami bisa melakukan ekesperimen quantum teleportation untuk pertama kalinya di luar laboratorium universitas," kata Rupert Ursin, peneliti Institute if Experimental Physics, Universitas Vienna, Austria. Pada Q-Teleportation, quantum pada objek dihancurkan dan dibuat kembali. Oleh karena itu, Q-Teleportation tidak bisa memindahkan benda hidup maupun mati secara keseluruhan fisik. Alat ini "menciptakan" replika benda sebelumnya pada posisi di tempat lain dan benda sebelumnya akan "menghilang" selama replikanya diciptakan.
sumber: National Geographic.

2. 360ยบ 3-D Holographic Displays


ZCam™ merupakan kamera video yang bisa merekam informasi hingga ke dalam bagian objek (yang biasa digunakan untuk membuat model 3D) video dan kemudian diproduksi oleh 3DV Systems. Teknologi ini berbasiskan prinsip "Time of Flight". Pada teknik ini, data ukuran 3D didapatkan dengan cara mengirim gelombang infra merah ke dalam scene video dan mendeteksi cahaya yang direfleksikan oleh permukaan objek pada scene video. Dengan menggunakan variabel waktu yang ditempuh oleh gelombang infra merah untuk mencapai objek target dan saat kembali, jarak bisa dihitung dan kemudian digunakan untuk membuat informasi 3D dari semua objek pada scene.




3. Lightsaber (Pedang Laser)

 

Yang kita ketahui, pedang ini hanyalah hasil "karya: pada film-film sains fiksi belaka!! Lightsaber terdiri dari logam dan mata pedang berupa plasma sepanjang 1 meter. Lightsaber ini bisa memotong objek tanpa perlawanan sedikitpun. Bisa meninggalkan luka bakar pada kulit manusia. Tapi pedang ini bisa ditangkis, namun dengan pedang lightsaber pula, bisa juga ditangkis dengan perisai.



4. JetPack
 

Jetpack, juga termasuk alat yang banyak kita temukan di film sains fiksi, yang mana alat ini menggunakan jet yang melepaskan gas (bisa juga air) dan kemudian "menerbangkan" penggunanya. TAM adalah perusahaan pertama dan satu-satunya di dunia yang memproduksi paket lengkap kostum yang didesain oleh Rocket Belt menggunakan mutakhir dan juga material aerospace dengan mesin penyulingan khusus untuk memproduksi bahan bakar Hidrogen Peroksida jet anda.

5. Military exoskeleton prototype
 

Military exoskeleton merupakan sejenis rangka luar bertenaga hidrolik yang dipasang pada militer dan bisa mengangkat hingga 100 kg benda untuk jangka waktu yang lama dan bisa sambil mengelilingi suatu area pula. Desainnya yang fleksibel memungkinkan pengguna untuk berjongkok, bergerak pelan dan "mengangkat" ke atas. Tidak ada joystick maupun mekanisme kontrol lainnya. Kontrolnya menggunakan indra manusia.




6. Flying Car





"Mobil terbang" ini disebut “The Highway in the Sky”. Jika tiap waktu agan terjebak macet, maka dengan menggunakan flying car ini agan bisa berputar dan menukik di angkasa agar bisa sampai di tujuan dengan cepat.
Sumber: CBS News.

Senin, 05 Desember 2011

Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan


Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan

Nah, pada gambar di bawah ini diberikan hubungan antara orang dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaannya dilihat dari latar belakang pendidikan, kesempatan bekerja, jenis pekerjaan, dan gaji yang didapat.
Dari gambar terlihat, makin tinggi pendidikan seseorang makin besar juga pendapatannya.
• Pengangguran terbanyak berada pada orang dengan tingkat pendidikan terendah. Namun bukan jaminan makin tinggi pendidikan makin sedikit angka pengangguran.
• Jumlah siswa yang drop out lebih banyak pria ketimbang wanita.
• Gaji terbesar terdapat pada insinyur. (kenapa ya, di negara maju dokter gak populer kayak di negara kita?)
• Tanpa kuliah bukan berarti kita punya pekerjaan dengan gaji lebih kecil. (bahkan kemungkinan orang yang tidak kuliah akan lebih cepat sukses ketimbang orang yang kuliah terlebih dahulu
• Pendidikan itu penting.


Butuh les bimbel? Ada gunanya gak sih?


Butuh les bimbel? Ada gunanya gak sih?

Ada gunanya gak sih kita ikutan les seperti di bimbel gitu?
Sedikit banyak sih, pasti ada gunanya. Tapi masalahnya maksimal gak? Bayangkan saja kita membayar jutaan rupiah untuk bimbel tapi hasilnya kurang maksimal?
Kalau dilihat dari apa-apa yang diiklankan oleh bimbel, pasti yang diiklankan adalah kelulusan Ujian Nasional atau peserta didiknya yang berhasil lolos ke PTN (perguruan tinggi negeri). Ditambah lagi kelebihan-kelebihan bimbel yang ditawarkan dengan segala keunikannya. (ada yang ngiklanin uang kembali hingga 100% bahkan lebih dan ada juga yang pasang iklan bisa menjawab tanpa melihat soal – dahsyat.)
Tapi dari iklannya, gak ada yang nampilin prestasi peserta didiknya yang cemerlang ketika mengikuti perkuliahan (biasanya sih yang ini buat sekolah, tapi buat bimbel, ngakuin juga gak apa kan. Orang bisa lulus UN dan lolos SNMPTN aja diakui sama bimbel, dan sekolah kayak gak punya peran sama sekali.).
Di bimbel juga biasanya diberi cara cepat mengerjakan soal dimana hal ini dapat sangat berbahaya apabila kita tidak paham dengan dasarnya. Kebanggan lolos ke PTN jadi bikin stress karena terseok-seok dengan materi perkuliahan karena tahunya Cuma cara cepat dan cara singkat mengerjakan soal tanpa tahu dasarnya. Padahal materi kuliah merupakan materi yang isinya sangat mendasar dan bergantung pada kemampuan pemahaman kita, kayaknya – hehe…
Aku gak bilang kalau bimbel itu percuma. Ada gunanya kok. Aku juga ikut bimbel. Cuma masalahnya kita disiplin dan sunguh-sungguh ngikutin gak? Percuma aja kalau jarang masuk. Mending uang bimbelnya buat beli buku soal dan pembahasaan aja.
Silakan pilih bimbel yang paling bagus iklannya, paling banyak cabangnya, dan paling banyak keberhasilannya serta paling inovatif.
Pertanyaannya, apakah CABANG BIMBEL yang kalian ikuti memang sesuai dengan yang diiklankan? (seperti tentor atau staff pengajarnya yang bener-bener sesuai iklan?)
Ini hanya unek-unek saja. Kalau terlihat sok tahu. Memang di artkel ini saya belagak tahu segalanya. Tapi kalau ada yang salah. Mohon dimaafkan dan diluruskan.

Kamis, 01 Desember 2011

Mana Lebih Penting, IQ atau EQ?


Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran kecerdasan intelektual seseorang. Diperoleh dari beberapa macam test dalam skala tertentu. Antara lain menggunakan skala Stanford-Binet dan skala Cattell, dan ada beberapa test dengan menggunkan skala acuan yang berbeda. Hasil test IQ digunakan dalam banyak konteks, antara lain sebagai prediktor tingkat pendidikan atau kebutuhan khusus. 
Emotional Quetiont (EQ) merupakan ukuran kemampuan seseorang untuk mengatasi atau memanage emosi pada diri sendiri juga pada hubungannya dengan orang lain. Yaitu memotivasi diri sendiri , empati pada orang lain secara mendalam, kemampuan untuk mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemampuan adaptasi dan kemandirian, kemampuan dalam memecahkan suatu masalah dan ketekunan, rasa setiakawan (toleransi) dan hormat. Atau bisa juga disebut ketrampilan sosial atau kecerdasan sosial. Yaitu lebih kepada kemampuan sosialisasi dan membentuk jaringan kepada orang lain.
Banyak orang berpendapat bahwa jika seseorang mempunyai kecerdasan intelektual atau (IQ) tinggi adalah jaminan kesuksesan di masa depan dibanding yang lebih rendah. Itu yang membuat kebanyakan kurikulum sekolah di tanah air lebih mementingkan IQ daripada EQ. Bahkan pengalaman si Sulung kami ketika Taman Kanak-Kanak Besar (TK-B) diwajibkan mengikuti test IQ pada salah satu Psikolog yang telah ditunjuk untuk salah satu syarat masuk Sekolah Dasar (SD) tertentu. Hasilnya sungguh menggembirakan karena masuk ke tingkat intelektual tinggi yaitu dengan skor 125 masuk tingkat cerdas (dari skor tertinggi 127 ke atas masuk jenius)
Akan tetapi pada kenyataannya, banyak kasus terjadi dimana seseorang yang mempunyai tingkat intelektual tinggi justru tersisih dari orang yang mempunyai tingkat intelektual lebih rendah. Ternyata IQ tinggi bukan sebuah jaminan meraih kesuksesan. Bahkan pada beberapa referensi membuktikan bahwa tingkat emosional seseorang lebih mampu memperlihatkan kemampuan seseorang meraih kesuksesan. 
Psikolog si Sulung mengungkapkan bahwa IQ seseorang tidak akan banyak berkembang. Apabila seseorang dilahirkan dengan IQ rata-rata maka tidak akan bisa bertambah atau berkurang, hasilnya tetap pada interval skala nilai tersebut. Berbeda dengan kemampuan emosional seseorang yang dapat dikembangkan seumur hidupnya yang dipengaruhi oleh pertumbuhan dari lingkungan keluarga. Dalam tampilan gambar yang saya pinjam dari google juga membuktikan bahwa 80% orang sukses karena EQ bukan IQ-nya. Hasil ini berdasarkan data survey orang sukses di dunia.
Pengalaman si kakak di Indonesia: IQ lebih penting daripada EQ?
Si sulung berumur 6 tahun 9 bulan sebelum kami ‘boyongan’ ke Swedia sekitar 6 bulan lalu. Sekolah di SD kelas 1 semester ke-2, dengan prestasi yang lumayan terlihat dari nilai raportnya. Dia juga sang ketua kelas loh, dipilih wali kelasnya karena suaranya lantang dan berani maju ke depan untuk menyiapkan teman-teman ketika datang ataupun menjelang sekolah usai. Walau tubuhnya kecil namun berani dan ‘dewasa’ , kata wali kelasnya ‘kecil-kecil cabe rawit’ 
Seperti kebanyakan teman-temannya, si kakak juga ikut les sepulang sekolah. Ada 3 les yang diikutinya, atas kemauan dan pilihannya sendiri.. walaupun pada akhirnya lebih banyak ngadat karena terlalu asyik main bersama anak tetangga sepulang sekolah. Tapi kami tidak memaksa untuk tetap berangkat, jadinya ya tiap bulan memberi ‘uang sukarela’ ke tempat lesnya. Sebenarnya dia minta diikuti les yang  lainnya, tapi kami tidak ijinkan, selain waktu bermain kurang juga karena dia suka ‘angot-angotan’. Dia awal saja semangat, selebihnya mulai malas deh..capek kan sudah bayar uang muka les lumayan besar ternyata tidak diterusin. Seperti waktu si kakak ingin belajar karate.. baru masuk di hari sabtu miggu pertama, sabtu depan sudah ngadat.
Otomatis si kakak hanya ikut 3 les yaitu les bahasa inggris di lembaga Inggris-Indonesia seminggu 2 kali, di komplek tempat tinggal kami. Les ngaji Iqra dengan memanggil guru mengaji setiap 2 kali seminggu dan les baca tulis hitung juga dengan guru privat. Sebelumnya kami sudah berusaha untuk mengajarkan semua sendiri, namun si kakak ingin seperti teman-temannya yang belajar dengan guru les. Tapi kami setiap hari juga tetap menemani dan membantu memecahkan soal dalam mengerjakan PR dan membimbing ketika mau ujian. Apalagi sekarang pelajaran SD sudah mulai susah. Pelajaran SD kelas 1 seperti kelas 3 atau 4 waktu saya sekolah dulu. Belum lagi mata pelajaran yang seabreg banyaknya dan banyak hafalan. Otak harus kerja ekstra keras. Alhamdulillah si kakak cukup pintar untuk bisa mengimbangi pelajaran di sekolah, walau nilai bahasa Sundanya selalu minim. Tapi bukan masalah besar bagi saya karena sayapun tidak bisa mengajarkan bahasa Sunda padanya, maklum orang Jawa tulen..
Pernah dia ingin ikut les kumon seperti beberapa teman main yang tinggal dekat rumah, namun saya berpikir ulang karena sudah cukup banyak waktu untuk belajar. Padahal dia juga perlu waktu bermain yang cukup mengingat umurnya dan sudah belajar di sekolah setiap pagi. Pernah suatu kali minta juga les renang, tapi karena waktunya bersamaan dengan les yang lain akhirnya sepakat setiap akhir pekan kami menemani berenang setiap dia minta, dan si adikpun bisa ikut bermain disana. Jadi tidak ada jadwal pasti untuk berenang 2 kali seminggu.   
Pada umumnya, seorang guru lebih banyak memberikan materi dan murid sebagai penerima materi. Soal di sekolah, PR atau ujian yang selalu diberikan. Atau sistem pengajaran satu arah. Hanya murid yang berani yang bisa berprestasi atau berdiskusi untuk mengungkapkan pendapat.
Pengalaman si kakak di luar negeri (Swedia): EQ lebih penting dari IQ?
Bulan maret kami pindah ke Swedia, dan si kakak belum berumur 7 tahun waktu itu. Mengikuti syarat dan ketentuan pendidikan disini sebelum umur 7 tahun tidak bisa masuk ke SD kelas 1, tapi masuk ke persiapan SD yaitu kelas 0 lagi. Setiap hari full bermain di sekolah, belajarpun cuma pengenalan angka dan huruf selebihnya cenderung ketrampilan meningkatkan kreatifitas dan kemandirian. Senang banget sekolah disini serasa lepas dari semua beban.
Disini kemampuan emosional lebih diutamakan. Terlihat dari mata pelajaran yang sedikit, tidak ada soal, PR atau ulangan umum. Guru justru sebagai pendengar atau pembimbing dengan penyampaian materi secara tersirat. Biasanya anak-anak mengungkapkan pengalaman, kejadian yang dialami atau apa saja mengenai lingkungan sekitar. Lalu mereka berdiskusi membahas topik yang dilontarkan seorang murid dan semua mengemukakan pendapat, guru hanya sebagai perangkum kesimpulan dari semua pendapat. Kemandirian dan kreativitas lebih ditekankan dengan ketrampilan dan kesenian. Rasa solidaritas kepada teman, saling berbagi dan peduli juga ditanamkan dengan diadakan acara outdoor atau belajar di luar sekolah baik di kebun binatang, taman kotam melihat pertujukan teatre, pantai, pelabuhan dan tempat yang lain yang berbeda setiap seminggu sekali.  
Dilema antara IQ atau EQ?
Dengan mengalami 2 sistem pendidikan yang jauh berbeda kurikulum dan acuannya membuat kami sebagai orangtua sedikit bingung untuk menentukan pentingnya IQ atau EQ? Tapi ada beberapa hal yang kami pertimbangkan mengingat hanya 4 tahun tinggal disini dan selebihnya harus kembali ke tanah air. Kecuali, syukur-syukur neh cita-cita suami untuk bekerja di luar negeri dan menetap tercapai..amien. Tapi tetap saja harus dipersiapkan kemungkinan ketika si kakak kembali di bangsu SD di tanah air. Mengikuti kurikulum dan semua ketentuan pendidikan yang berlaku disana.
Libur panas 2 bulan hampir berlalu yaitu dari tanggal 18 Juni - 18 Agustus. Selama liburan musim panas kami mengunjungi beberapa kota di wilayah Skane untuk melihat festival, karnaval, acara summer lainnya atau hanya sekedar ingin melihat kota itu. Juga sempat ke negeri tetangga Denmark beberapa kali dengan naik kereta listrik. Sesekali kalau sedang dirumah atau malas keluar karena hujan, kami bergantian mengajari dan membimbing si kakak belajar mengikuti kurikulum di tanah air. Si papa mengajari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), bahasa Inggris dan mengaji, sedangkan saya membimbing belajar matematika dan bahasa Indonesia. 
Di tanah air, sekarang teman-teman si kakak kelas 2 SD sedangkan si kakak baru mau naik kelas 1 itupun dengan kurikulum lebih banyak bermain.  Seperti halnya orang perantauan, kami menitipkan sesuatu kepada teman yang pulang ke tanah air untuk bisa sampai kesini. Kamipun menitipkan beberapa buku pelajaran SD untuk 2 semester sekaligus, namun tidak semuanya. Hanya IPA, matematika, bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selebihnya yang sebagian besar hafalan dan lingkungan bisa kami cari di beberapa silabus pelajaran SD online dan belajar dari materi tersebut.
Nah, sekarang ada kurikulum baru yang kami tetapkan. Setiap saat selama liburan, kami terpaksa menjejali si kakak dengan kurikulum SD yang berlaku di tanah air, supaya tidak banyak ketinggalan kelak sekembali kesana. Jadi kami menyebutnya belajar dirumah dan bermain di sekolah. Setelah masuk sekolah si kakak akan bermain” di sekolah dan  tentu harus belajar di rumah 5 hari seminggu, dari Senin - Jumat. Sedangkan hari libur (sabtu - minggu) adalah hari ‘kebebasan’. Karena kalau tidak diberlakukan kurikulum baru itu kasihan si kakak nanti ‘termehek-mehek’ seperti pengalaman beberapa anak teman yang mengalami sekolah di luar negeri dan pada akhirnya memilih home schooling sebagai solusi.
Pada akhirnya perdebatan dan kebimbangan diakhiri dengan satu kesimpulan, bahwa kecerdasan intelektual (IQ) sama pentingnya dengan kemampuan/kecerdasan emosional (EQ).
Pesan Papa dan Mana untuk si kakak: Ayoo kita belajar dan bermain…jangan banyak bermain dan jangan pula banyak belajar..



Membudayakan Menulis Sejak TK sampai Mahasiswa

Membudayakan menulis semenjak kecil adalah sangatlah baik untuk tumbuh kembang tingkat kepenulisan kita.Semenjak duduk dibangku sekolah jika seorang guru memasuki kelas, sejak awal hingga akhir pelajaran tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya menulis dan menyampaikan pesan komunikasi pendidikan menggunakan media papan tulis, rasanya ada sesuatu yang janggal. Ada hal aneh dan tidak lazim.Namun sebaliknya, jika seorang guru sejak awal hingga akhir jam pelajaran hanya berbicara, berceramah, memberikan orasi di depan kelas, tanpa sedikitpun menulis di papan tulis, rasanya biasa-biasa saja. Hal itu banyak terjadi di depan kelas.
Ternyata dari kejadian diatas,sistem pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya banyak menulis,berubah menjadi banyak bicara.Akhirnya banyak kita temukan di zaman ini orang-orang sangat pandai berbicara,berbual,berorasi tapi jarang yang bisa menulis.
Hal itu terjadi sejak guru mengajar di bangku TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Mereka memberikan contoh pembelajaran yang akhirnya membudaya, lebih banyak berbicara dari pada menulis.Kebiasaan itu akhirnya menjadi sebuah budaya di wajah pendidikan kita. Orang lebih banyak berbicara, dari pada menulis. Efeknya orang tidak (terlalu suka) membaca. Apalagi bacaan yang agak berat seperti halnya bacaan buku berisi ilmu pengetahuan ataupun artikel tentang suatu permasalahan dalam kehidupan di masyarakat.
Secara tidak sengaja para guru dan para dosen mengajarkan kepada siwa-siswi dan mahasiswanya untuk lebih banyak berbicara dari pada menulis. Maka dunia menulis – dalam pengertian menulis artikel atau tulisan mengandung muatan ilmiah, menjadi demikian jauh. Karena jauh, dianggap sesuatu yang asing, sulit, dan tidak disukai.Untuk mengembalikan sesuatu yang “jauh” tadi, maka harus dilakukan upaya pendekatan-pendekatan. Tidak perlu untuk saling menyalahkan, tidak perlu malu-malu mengakui kekurangan ini.
Secara sistematis di semua lini dan jenjang pendidikan harus ditekankan tentang pentingnya siswa-siswi hingga mahasiswa-mahasiswi untuk suka dan terbiasa menulis. Jika sedang TK atau SD sudah terbiasa menulis sesuatu yang nyata di sekitarnya, maka jenjang berikutnya tinggal menyempurnakan.
Kebiasaan menulis ini harus lebih ditingkatkan bobot dan frekuensinya di bangku SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.Sudah saatnya Dinas Pendidikan Pusat meluncurkan suatu kebijakan baru, agar lembaga pendidikan penghasil guru seperti IKIP dan lembaga pendidikan lainnya menambah jatah ilmu praktis tentang teknis menulis suatu karya ilmiah yang sederhana, mudah dilakukan, tanpa meninggalkan bobot ataupun mutu. Sudah sepatutnya pelajaran menulis suatu karya tulis berbasis ilmu pengetahuan atau karya ilmiah dibiasakan sejak dini. Hal ini akan menjadi suatu kebiasaan yang secara tidak disengaja menjadi rutinitas positif.


 



 
Copyright (c) 2010 Leeyhae.blogspot.com and Powered by Blogger.